Pertumbuhan bisnis kuliner di Indonesia sejak pandemi covid 19
Munculnya pandemi virus corona berdampak pada pertumbuhan bisnis makanan dan minuman kuartal satu 2020. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mengatakan penjualan mamin tiga bulan pertama tahun ini hanya tumbuh 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Angka tersebut meleset dari target yang mereka tetapkan awal tahun yakni 2,5%. Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik Gapmmi Rachmat Hidayat mengatakan penurunan terjadi pada air minum dalam kemasan dan minuman ringan seiring adanya kebijakan pembatasan kerumunan.
Namun ada pula jenis makanan dan minuman yang tetap berjaya di kala pandemi. Rachmat mengatakan jenisnya terdiri dari bumbu dapur, saus, mentega, mie instan, serta produk-produk makanan untuk meningkatkan imunitas tubuh. “Lalu susu kemasan besar dan makanan kaleng juga meningkat,” kata Rachmat.
Rachmat juga mengatakan dampak virus corona memaksa Gapmmi mencoret target pertumbuhan yang ditetapkan tahun ini sebesar 10%. Mereka hanya mampu mematok target 4-5% dan telah disesuaikan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang diprediksi minus 2% imbas Covid-19. "Angka ini sangat besar karena kami terpangkas separuhnya," kata dia.
Meski demikian ada beberapa perusahaan yang tetap menunjukkan tajinya saat pandemi. Salah satunya adalah PT Mayora Group yang mampu mengekspor produk makanan dan minuman senilai Rp 1,07 triliun.
Berdasarkan data Kemendag, pada periode Januari–Mei 2020, neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar US$ 4,3 miliar. Dari angka tersebut, nilai ekspor produk makanan olahan Indonesia pada Januari−Mei 2020 tercatat sebesar US$ 1,32 miliar, meningkat 7,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar